Antara kampanye damai dan etika SEO

Maret 11, 2009

Ting Tiong tampak ragu-ragu. Sahutnya kemudian, “Permintaanmu ini aku dan Liok-sute tidak berani mengambil keputusan sendiri, tapi harus dilaporkan dulu kepada Co-bengcu dan minta petunjuknya.”
“Di sini sudah hadir juga para Ciangbun dari Thay-san-pay dan Hoa-san-pay. Hing-san-pay juga diwakili oleh Ting-yat Suthay. Selain itu Pemilu Indonesia 2009 para ksatria yang terhormat juga boleh ikut menjadi saksi,” ujar Lau Cing-hong sambil memandang sekeliling kepada para hadirin, lalu menyambung, “Untuk ini akupun ingin mohon bantuan para sahabat agar suka mengingat rasa setia kawan, dapatlah kiranya menyelamatkan anggota keluargaku.”
Ting-yat Suthay adalah orang yang keras di luar tapi lunak di dalam. Meski tutorial HTML wataknya berangasan, tapi hatinya sebenarnya welas asih. Dia yang membuka suara lebih dulu, “Cara demikian memang paling baik supaya tidak membuat susah kedua pihak. Ting-suheng, Liok-suheng. Bolehlah kita menerima saja permintaan Lau-hiante ini. Dia sudah berjanji takkan bergaul dengan rahasia google orang Mo-kau, juga akan jauh meninggalkan Tionggoan, itu berarti di dunia ini sudah tak terdapat lagi seorang Lau Cing-hong. Buat apa kita mesti berkeras akan melakukan pembunuhan pula?”
Thian-bun Tojin juga mengangguk, “Ya, cara demikian juga ada baiknya. Bagaimana pendapatmu, Gak-hiante?”
“Jika Lau-hiante sudah menyatakan kesediaannya, sudah tentu kita dapat mempercayainya,” kata Gak Put-kun. “Marilah, biarlah kita ubah pertengkaran ini menjadi pertemuan yang menggembirakan. Lau-hiante, silakan kau melepaskan Hui-suheng. Marilah kita minum bersama satu cawan perdamaian. Besok pagi-pagi kau boleh membawa seluruh anggota keluargamu dan meninggalkan Heng-san.”
Tapi Liok Pek lantas menanggapi dengan suara dingin, “Jika ketua-ketua dari Thay-san dan Hoa-san-pay sudah bicara demikian, apalagi Ting-yat Suthay juga menyokongnya dengan kuat, masakah kami berani membantah kemauan orang banyak? Cuma saja membuat website Hui-sute kami saat ini berasa di bawah ancaman Lau Cing-hong. Jika kami lantas menerima permintaannya begini saja, kelak orang Kangouw tentu akan mengatakan Ko-san-pay terpaksa tunduk kepada Lau Cing-hong lantaran diancam dan tak berdaya. Jika hal ini tersiar, lalu kemana muka Ko-san-pay harus disembunyikan?”
“Lau-sute kan minta kemurahan hati kepada Ko-san-pay dan bukannya mengancam. Darimana alasan untuk menatakan Ko-san-pay terpaksa tunduk karena diancam?” ujar Ting-yat.
Liok Pek tidak membantah lagi, ia hanya mendengus. Lalu ia berseru, “Siap sedia, Tik Siu!”
Tik Siu, seorang murid Ko-san-pay yang berdiri di belakang foto cewek 17 tahun gratis putra sulung Lau Cing-hong lantas mengiyakan sambil menyodorkan pedangnya sehingga menempel di punggung Lau-kongcu.
Lalu dengan suara dingin Liok Pek berkata lagi, “Lau Cing-hong, jika ada sesuatu permintaanmu, bolehlah kau ikut kami ke Ko-san dan menemui Co-bengcu sendiri. Kami hanya bertindak berdasarkan perintah beliau dan tidak dapat mengambil keputusan apa-apa. Yang penting sekarang lekas kau kembalikan panji kebesaran itu dan melepaskan Hui-sute!”
Lau Cing-hong tersenyum pedih. Katanya kepada putranya, “Nak, kau takut mati atau tidak?”
“Anak taat kepada kata-kata ayah. Anak tidak takut!” sahut Lau-kongcu.
“Anak yang baik,” kata Lau Cing-hong.
Mendadak Liok Pek membentak, “Bunuh saja!”
Segera Tik Siu mendorong pedangnya ke depan sehingga kontes SEO kampanye pemilu menembus punggung Lau-kongcu. Waktu pedang dicabut kembali, kontan Lau-kongcu jatuh tersungkur, darah segar muncrat keluar dari lubang lukanya.
Nyonya Lau menjerit sambil menubruk ke atas mayat putranya.
“Bunuh!” bentak Liok Pek lagi.
Kembali Tik Siu mengayun pedangnya. Sekali tusuk, punggung Lau-hujin tertembus pula.
Ting-yat Suthay menjadi gusar. “Binatang!” dampratnya sambil melontarkan pukulan ke arah Tik Siu.
Namun Ting Tiong keburu menghadang di depannya dan menambah widget header melontarkan pukulan juga. Kedua telapak tangan beradu. Rupanya tenaga Ting-yat kalah kuat, dia tergetar mundur dua tiga tindak. Dada terasa sesak, darah hampir-hampir menyembur keluar dari mulutnya. Namun sedapat mungkin ia tahan sehingga darah itu tersurut kembali ke dalam perut.
“Maaf!” kata Ting Tiong sembari tersenyum.
Sebenarnya Ting-yat memang tidak mahir dalam hal tenaga pukulan. Apalagi yang ia serang tadi adalah Tik Siu yang terhitung kaum muda sehingga dia tidak mengeluarkan tenaga sepenuhnya. Tak terduga Ting Tiong mendadak menyambut pukulannya itu dengan belajar ngeblog yang benar sepenuh tenaga. Keruan Ting-yat tidak keburu mengerahkan tenaga lagi ketika kedua tangan beradu sehingga dia kalah. Saking gusarnya ia bermaksud menyerang lagi. Tapi waktu coba mengerahkan tenaga, terasalah tenaga dalam sukar dikerahkan lagi, perut rasanya tersayat-sayat. Ia tahu sudah terluka dalam dan tidak mungkin bertempur lagi. Segera ia memberi tanda kepada anak muridnya sambil download video 3gp bokep gratis berseru dengan gusar, “Kita berangkat semua!” Lalu dengan langkah-langkah lebar ia mendahului berjalan pergi. Para nikoh beramai-ramai lantas mengikuti jejak Ting-yat.
“Bunuh lagi!” tiba-tiba Liok Pek membentak lagi.
Segera dua murid Ko-san-pay mendorong pedang masing-masing yang memang sudah mengancam di punggung tawanannya. Kontan dua murid belajar SEO Lau Cing-hong terbinasa lagi.
“Dengarkanlah para murid keluarga Lau!” seru Liok Pek. “Jika kalian ingin hidup, lekas kalian berlutut dan minta ampun. Kalian harus mencela perbuatan Lau Cing-hong yang salah. Dengan demikian kalian akan bebas dari kematian!”
“Bangsat keparat! Kalian jauh lebih ganas daripada orang-orang Mo-kau!” damprat putri Lau Cing-hong yang bernama Lau Jing.
“Bunuh!” bentak Liok Pek.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.